Publikasi

BAB   I. PENDAHULUAN

Tidak adil rasanya kalau menyebutkan ubi kayu sebagai komoditas ”kelas bawah” yang tidak mempunyai nilai lebih bahkan termarjinalkan dengan tanaman yang lain, namun itulah kenyataan yang berkembang selama ini. Harga ubi kayu setiap tahunnya saat panen raya tergolong sangat rendah. Padahal ubi kayu mempunyai potensi yang sangat berkualitas bagi kehidupan umat manusia, kualitas tersebut bisa menghidupkan berbagai industri hulu dan hilir. Kalau di urai satu-persatu mungkin terlalu banyak manfaat ubi kayu untuk kehidupan manusia. Adapun manfaat ubi kayu yang bisa di produksi secara massal di antaranya adalah. Pertama ubi kayu bisa dibuat tepung tapioka, kedua ubi kayu bisa di produksi menjadi Bahan Bakar Nabati ”dalam akhir-akhir ini telah di temukan bahwa ubi kayu mempunyai kandungan unsur berupa etanol sampai 99,7%”, dimana etanol ini bisa menjadi bahan bakar alternatif penganti Bahan Bakar Minyak (BBM) yang rama lingkungan.

Ancaman lingkungan berupa pencemaran udara dan Global Warming, serta kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia yang semakin besar, serta suplay BBM kian menipis sumbur-sumber minyak juga makin lama makin mengering, merupakan masalah yang menjadi tanggung jawab bersama dalam kehidupan, hal ini harus ditangani secara serius dan konsisten. Manusia juga dituntut untuk lebih arif dalam mencari teknologi baru dan energi terbarukan, yang bersifat higienis serta rama lingkungan.

Dengan penemuan tentang kandungan etanol yang terdapat dalam ubi kayu yang memiliki kadar 99,7%, maka, Ini menjadi suatu solusi alternatif untuk di kembangkan dalam menjawab kelangkaan Bahan Bakar Minyak dan dampak negatifnya. dimana etanol yang terkandung di dalam ubi kayu tersebut mempunyai kadar oktan yang melebihi pertamax, sehingga tidak ada keraguan untuk membudidayakan ubi kayu sebagai Bahan Bakar Nabatai untuk Masa depan (urain rincinya terdapat dalam bab berikutnya).

Dalam rangka mensinergikan program pemerintah tentang strategi utama pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) yang di sebut Fast Track program, yaitu pengembangan Desa Mandiri Energi. Maka, Ubi kayu merupakan komoditas yang mempunyai posisi penting untuk di prioritaskan sebagai komoditas BBN, karena ubi kayu mengandung kadar etanol yang cukup besar.

Disisi lain ubi kayu mempunyai kadar etanol yang cukup besar sebagai bahan baku BBN, ubi kayu juga mampuh di jadikan solusi pembragaman kemandirian pangan.

Dengan bioenergi dari ubi kayu ini akan menjadi sangat strategis untuk menjaga sutainaibelity energi Indonesia pada masa yang akan datang.

DAFTAR ISI

BAB   I. PENDAHULUAN…………………………………………………………………………..1

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….3

BAB   II. PROBLEMATIKA ENERGI FOSIL………………………………………………..4

  1. Terbatasnya Sumber Minyak Dan Gas……………………………………..4
  2. Besarnya Kebutuhan Energi Minyak Dan Gas……………………………..4
  3. Pembakaran Emisi Yang Tidak Rama Lingkungan (Global Warming)………………………………………………………………….5

BAB   III. SINGKONG GAJAH SOLUSI ALTERNATIF DALAM MENJAWAB KELANGKAAN ENERGI ……………………………………………………………………….6

  1. Singkong Gajah Sebagi Sumber Energi Baru Dan Terbarukan (Renewable)………………………………………………………………6
  2. Mengapa Harus Singkong Gajah…………………………………………..8
  3. Singkong Gajah Sebagi Penghasil Bioetanol Untuk BBN…………………..9

BAB   IV. KELEBIHAN SINGKONG GAJAH……………………………………………..10

  1. Mudah Dalam Proses Budidaya ………………………………………….10
  2. Jumlah Panen Yang Banyak Dan Nilai Lebih singkong gajah…………….10
  3. Mempunyai Nilai Ekonomi Tinggi

BAB   V. BUDIDAYA SINGKONG GAJAH MENGURANGI PENGANGURAN DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN

  1. Mengurangi Penganguran Masyarakat
  2. Menambah Incam Petani

BAB   VI. SINGKONG GAJAH SEBAGAI TRIGGER GERAKAN NASIONAL DESA MANDIRI ENERGI

  1. Gerakan Nasional Desa Mandiri Energi
  2. Singkong Gajah sebagi Komoditas
  3. Proses Pembibitan Singkong Gajah
  4. Arah Orentasi Singkong Gajah
  5. Peran Strategis Departemen Pemerintahan
  6. 1.Lampiran  ”Foto-Foto”

BAB   II PROBLEMATIKA ENERGI FOSIL

  1. a. Terbatasnya Sumber Minyak Dan Gas

Banyaknya jumlah penduduk Indonesia sangat mempengaruhi tentang kebutuhan energi BBM Nasional. Meningkatnya jumlah penduduk berbanding terbalik dengan jumlah cadangan energi MIGAS yang berasal dari fosil, semakin banyak pertambahan penduduk maka semakin banyak kebutuhan energi fosil dan semakin berkurangnya cadangan energi fosil. Sampai saat ini kebutuhan BBM nasional kita kurang lebi 500 juta barel/tahun, untuk gas 3,0 TSCF dan batu bara 130 juta ton/tahun, kondisi ini sangat memperhatikan karena cadangan minyak bumi yang ada di dalam perut bumi di perkirakan kurang lebi berjumlah 9 miliar barel, artinya jika proses produksi BBM terus menerus tanpa ada kearifan dan tanpa ada usaha untuk menemukan teknologi baru sebagai pengganti BBM di perkirakan cadangan minyak bumi yang masi ada akan habis dalam kurun waktu kurang lebih dua puluh tiga (23) tahun mendatang. Kita bisa membayangkan bagaimana tingkat kehidupan kita apabila Bangsa ini sudah tidak memiliki sumber energi dari minyak dan gas bumi. Maka yang ada adalah kematian sebuah bangsa, dan berhentinya denyut jantung kehidupan secara total.

Sebuah kehidupan tidak akan lepas dari energi yang menggerakkan, sehingga menjadi keniscayaan bagi masyarakat Indonesia untuk berinovasi dan berkreasi dalam rangka menemukan solusi alternatif untuk mengganti energi fosil menjadi energi nabati yang rama lingkungan serta meningkatkan recovery minyak bumi.

  1. b. Besarnya Kebutuhan Energi Minyak Dan Gas

Besarnya kebutuhan energi BBM untuk memenuhi aktivitas kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, dimana kebutuhan tersebut menjadi keharusan bagi pemerintah untuk selalu memenuhi kebutuhan BBM sebagi salah satu maujud dari tangung jawab pemerintah kepada publik, hal ini dilakukan  demi continuitas kehidupan umat manusia dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan pada periode bulan januari-juli 2006 lalu, produksi BBM Indonesia hanya mencapai 1,029 juta barel per hari, sedangkan konsumsi BBM mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari sehinggah terdapat defisit BBM sebesar 270.000 barel yang harus di penuhi melalui impor. Dengan harga minyak dunia mencapai USD 70 per barel, untuk memenuhi defisit sebesar 270.000 barel tersebut  Pemerintah Indonesia harus menyediakan budget setiap harinya sekitar USD 18.900.000 per hari (sekitar RP 170 miliar perhari).

Bisa di bayangkan 170 milyar per hari hanya di alokasikan untuk memenuhi kebutuhan BBM, walaupun kebijakan ini dilakukan atas nama kemakmuran masyarakat namun kebijakan ini dianggap kurang proposional, bgaimana tidak subsidi BBM sebesar 170 miliar per hari di nikmati begitu banyak masyarakat mampuh bahkan lebih, namun inilah paradigma masyarakat Indonesia.

Dengan permasalahan tersebut pemerintah dan masyarakat Indonesia di tuntut untuk arif dalam mencari solusi alternatif dari ketergantungan terhadapa energi fosil, mulai tahun 2006 sudah di mulai program untuk pendayagunaan energi alternatif dari bahan baku nabati, semoga transformasi paradigma energi fosil ke energi Bio-Fuel terus berjalan secara progressif dan menyentuh di level masyarakat bawah, ”khususnya petani” agar petani juga merasakan kemakmuran secara mandiri.

  1. c. Pembakaran Emisi Yang Tidak Rama Lingkungan (Global Warming)

Bahan bakar minyak yang berasal dari fosil memberikan dampak Negatif bagi lingkungan hidup kita, bahan bakar ini memberikan dampak negatif mulai dari pemanasan global (Global Warming) samapai pencemaran udara yang setiap harinya kita hirup. Mungkin ada baiknya kalau kita mengurai salah satu sampel BBM agar mendapat gambaran yang utuh atas dampak negatif dari energi fosil, ”contoh kandungan yang ada di dalam bensin, bensin adalah senyawa hidrokarbon yang berisi hidrogen dan atom karbon. Pada mesin yang ”bagus”, oksigen mengubah semua hidrogen dalam bahan bakar menjadi air dan mengubah semua karbon menjadi karbon dioksida. Kenyataanya proses pembakaran ini tidak selamanya berlangsung sempurna.” Akibatnya mesin mobil atau mesin yang lainnya, dimana proses pembakaranya tidak sempurna maka akan mengeluarkan beberapa jenis polutan berbahaya ”yang paling berbahaya adalah unsur timbel”, jika senyawa polutan ini di lepaskan ke udara maka akan bercampur dan bersentuhan dengan oksida nitrogen dan sinar matahari, senyawa ini akan berubah menjadi asap yang memedihkan mata, mengganggu tenggrokan, dan saluran pernapasan, begitu pulah dengan bahan bakar minyak yang lainnya.

Pada tahun 1994 Bank Dunia melaporkan telah terjadi 1.200 kasus kematian prematur dan 32 juta kasus penyakit pernapasan di jakarta. Data tim studi RETA (2002), menyatakan bahwa beban sosial akibat pencemaran udara di DKI jakarta mencapai Rp 1.8 triliun. Begitu pulah laporan yang di keluarkan oleh direktur WALHI beban biaya warga sebagai dampak polusi akan naik menjadi Rp 4,3 triliun pada tahun 2015. Begitu besarnya dampak negatif dari pembakaran emisi dari energi fosil, hal ini harus di upayakan solusinya untuk mengatasi masalah tersebut. Pemerintah telah melakukan kebijakan dan program untuk mengatasi permaslahan tersebu adapun bentuk kebijakanya adalah :

  1. Menghapus bensin bertimbel melalui langit biru
  2. Pengunaan adaftif Methyl Tertier Butyl Ether (MTBE) berfungsi mengurangi emisi bahan baker.
  3. Bio Energi
  4. Desa mandiri Energi
  5. dll

namun hal ini akan  menjadi kesiasian ketika program tersebut tidak dilakukan secara konsisten dan sinergi dengan pemerintahan daerah dan segenap masyarakat.

BAB   III  SINGKONG GAJAH SOLUSI ALTERNATIF DALAM MENJAWAB KELANGKAAN ENERGI

  1. a. Singkong Gajah Sebagi Sumber Energi Baru Dan Terbarukan (Renewable)

Energi merupakan roh bagi kehidupan di bumi ini, tanpa energi kita tidak bisa membayangka bagaimana kehidupan di bumi ini, mustahi mereka akan hidup dan bergerak alias berdenyutnya jantung kehidupan. Namun kita sebagai manusia juga di tuntut untuk berkreasi dan arif dalam mengkonsumsi energi yang tersedia di perut bumi ini khususnya energi fosil yang tidak dapat di perbarui (inrenewable).

Indonesia yang semula adalah net-exporter di bidang Bahan Bakar Minyak (BBM) kini telah berubah menjadi net-importer BBM sejak tahun 2000. Hal ini sungguh ironis karena terjadi pada saat harga minyak dunia tidak setabil dan cenderung mengalami peningkatan.

Tingginya harga minyak dunia menyebabkan harga BBM di dalam negeri meningkat. Pemerintah melakukan subsidi untuk menyesuaikan harga BBM, namun subsidi ini mulai di kurangi sejak tahun 2003, wujud nyata dari pengurangan subsidi ini adalah dengan dinaikanya harga pada tangga 1 Oktober 2005.

Kondisi ini sanggat memperhatinkan, terlebih lagi ketergantungan indonesia terhadap bahan bakar fosil sangat besar. Hal ini terlihat dari aktivitas masyarakat Indonesia sehari-hari yang tidak terlepas dari pemakaian bahan bakar.

Tabel 1 : Jumlah Produksi Energi

NO SUMBER ENERGI JUMLAH PRODUKSI
1 Minyak Bumi 52,5 %
2 Gas Bumi 19%
3 Batu Bara 21,5%
4 Air 3,7%
6 Panas Bumi 3%
7 Energi Terbarukan 0,2%

Cadangan minyak bumi indonesia hanya sekitar 9 miliar barel dan produksi indonesia sekitar 500 juta barel per tahun. Ini artinya jika terus di konsumsi dan tidak di temukan cadangan minyak baru atau tidak di temukan teknologi baru untuk meningkatkan recovery minyak bumi, di perkirakan cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu dua puluh tiga tahun mendatang ( lihat tabel 1).

Sudah saatnya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dengan mengembangkan sumber energi alternatif terbarukan. Pengembangan bioenergi diharapkan bisa mensubtitusi kebutuhan BBM di Indonesia untuk saat ini dan masa mendatang nanti. Ubi kayu yang bervarietas Singkong gajah mungkin bisa menjadi solusi alternatif dalam menangani kelangkaan energi fosil, karena dalam kandungan singkong gajah terdapat unsur etanol yang cukup besar hampir 99,7% kadarnya, bisa di bayangkan kalau singkong gajah ini di budidayakan dengan jumlah besar berapa persen yang di sumbangkan ke negara untuk penghematan energi BBM. Singkong gajah merupakan varietas baru dari ubi kayu yang mempunyai banyak kelebihan baik dari segi proses budidayanya, kekebalan dari penyakit, dan hasil panennya ”lebi jelasnya di bahas di halaman berikutnya”.

Tabel 2 : Cadangan Dan Produksi MIGAS, Batu Bara

ENERGI FOSIL MINYAK BUMI GAS BATU BARA
Sumber daya 86,9 Miliar Barel 384,7 TSCF 57 Miliar Ton
Cadangan 9 Miliar Barel 182 TSCF 19,3 Miliar Ton
Produksi 500 Juta Barel 3,0 TSCF 130 Juta Ton
Ketersedian ( Tanpa Eksplorasi Cadangan/produksi) Tahun 23 62 146

Sumber : Direktorat Jenderal Listrik Dan Pemanfaatan Energi, 2006

  1. a. Mengapa Harus Singkong Gajah

Singkong gajah adalah tumbuhan varietas dari ubi kayu yang mempunyai kandungan bioetanol yang cukup besar sekitar 99,7%, di samping itu singkong gajah bisa menghasilkan panen yang cukup besar, panen yang di hasilkan singkong gajah kurang lebi 150ton/ha di atas panen varietas lainya.

Biotanal yang terkandung dalam singkong gajah bisa di olah menjadi BBN yang berfungsi sebagai subsider BBM yang terbarukan, singkong gajah bisa menjadi bahan bakar terbarukan yang prospek untuk di kembangkan, singkong gajah adalah hasil ijtihad dari Prof. Dr. Ristono, MS. Dan Bambang Prang Hutomo.SH Sebagi bentuk usaha untuk mencari energi alternatif atas minimya cadangan migas di Negeri ini.

Usaha pencarian energi alternatif atau teknologi yang baru bukan hanya di landasi tingginya harga minyak bumi dunia yang bertengger di kisaran USD 70 per barel, tetapi juga karena terbatasnya cadangan minyak bumi di Indonesia. Sehingga pengembangan energi alternatif menjadi keniscayaan untuk segera di realisasikan. Kesedian energi fosil yang diramalkan tidak akan berlangsung lama lagi, dan harus di carikan solusi yang tepat guna, yakni dengan sumber energi alternatif.

Singkong gajah hadir menjadi komoditis yang bisa di andalkan untuk menjawab permasalahan tersebut. Bioetanol yang terkandung dalam singkong gajah sangat besar dimana bahan bakar nabati ini bisa diperbarui dan rama lingkungan, sehingga bisa mengurangi Global Warming yang sekarang intensitasnya menaik, bioenergi dari singkong gajah yang rama lingkungan ini sangat mendukung gerakan pengurangan gas emisi yang di lakukan PBB dengan selogan ”Climate Ching ” .

  1. a. Singkong Gajah Sebagi penghasil bioetanol untuk BBN

BBN merupakan program aternatif penganti minyak fosil yang pro rakyat yang tercantum di Fast Track berupa Desa Mandiri Energi. namun program ini masi belum maksimal di jalankan sehingga masi membutuhkan penangganan secara serius dan konsisten agar masyarakat petani juga bisa di berdayakan tenaganya seacara maksimal dan merata.

Ketidak maksimalan program fast track mungkin ada beberapa permasalah yang masi menghambat diantaranya:

  1. rendanya nilai ekonomis dari komoditas nabati
  2. biaya perawatan yang relatif mahal dari tanamann nabati
  3. suatu program yang kurang konsisten dengan prinsip pro-job, pro-growth dan pro-planet

Singkong gajah hadir menjadi salah satu jawaban dari problem di atas, singkong gajah mempunyai proses pertumbuhanya cukup cepat dengan hasil panen hingga 100-200 ton per hektar, sedangkan nilai jualnya hingga 500 ribu per kilogramnya, singkong gajah merupakan varietas baru dari tanaman ubi kayu yang mempunyai kandungan Bioetanol yang tinggi,

Proses produksi singkong gajah menjadi Bahan Bakar Nabati menjadi komuditas yang posisinya perlu diprioritaskan karena

  1. Singkong gajah mempunyai potensi yang sanggat besar untuk menguatkan Scurity Of Supply bahan bakar berbasis kemasyarakatan
  2. mempunyai jumlah panen yang lebi dibanding dengan varietas yang lainya
  3. mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi
  4. mempunyai kemudahan dalam sistem budidayanya
  5. memperbesar basis sumber daya bahan bakar nabati.
  6. mempunyai kekebalan penyakit

BAB   IV KELEBIHAN SINGKONG GAJAH

  1. a. Mudah Dalam Proses Budidaya

Proses budidaya yang menghasilkan adalah proses budidaya yang membutuhkan biaya minimal dan menghasilkan panen yang maksimal, dan resiko gagal panen sangat minim. Budidaya Singkong gajah telah di praktekan sebagai bisnis budidaya yang sangat menghasilkan, Cara tanam singkong ini sangat mudah, dengan sistem setek bisa tumbuh. Batang singkong dipotong lalu ditancapkan dalam tanah yang gembur. Hasilnya pun berbeda dengan singkong biasa yang ditanam menggunakan proses okulasi atau dicangkok. “Dalam jangka kurang lebih sembilan bulan, kalau singkong biasa hasil panennya 2-3 kg dalam satu pokok, maka dengan singkong gajah bisa mencapai 30-40kg

singkong gajah adalah varietas baru dimana hasil dari panen singkong gajah hampir 3 kali lipat dari singkong biasa panen singkong gajah ini mencapai 100ton/ha, singkong gajah dapat beradaptasi luas di daerah beriklim panas (tropis). Singkong gajah ini bisa di tanam diantara dataran rendah 10 m samapai dataran 2500 m di atas permukaan laut (DPL) yang bercurah hujan antara 500 mm-sampai 2500 mm/th.

Sistem atau cara penanaman singkong gajah seperti ubi kayu lainya yaitu dengan cara di setek namun kelebihan dari budidaya singkong gajah adalah bibitnya mempunyai kekebalan hama dan penyakit yang cukup kebal, serta masa panen yang relatif cepat di banding dengan ubi kayu lainya hampir rata 150 ton/ha per 8-9 bulan.

  1. b. Jumlah Panen Yang Banyak Dan Nilai Lebih singkong gajah

Dengan jumlah panen 150 ton/ha per 8 bulan maka singkong gajah mempunyai nilai lebih dari varietas lainya, dengan era kebangkitan energi II dimana era ini lebih memprioritaskan energi alternatif yang berasal dari energi nabati maka ubi kayu dengan nama varietas singkong gajah ini mempunyai nilai ekonomi cukup lumayan 500/kg.

Kelebihan lain dari singkong gajah adalah :

  1. memenuhi kebutuhan energi Bangsa
  2. efektif untuk mengendalikan erosi
  3. meningkatkan efisensi penggunaan lahan
  4. memperkecil resiko kegagalan
  5. meningkatkan pendapatan bersih per tahun dan terdistribusi secara merata
  6. meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk
  7. memenuhi kebutuhan pangan.
  8. memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.

Tabel 3 : Perkembangan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Ubi Kayu Di Indonesia pada Tahun 1975-1978

No Tahun Produksi

(1.000 ton)

Luas Panen

(1.000 ha)

Produktifitas

(ton/ha)

1 1975 12.456 1.410 8,83
2 1975 12.486 1.356 9,19
3 1977 12.437 1.364 9,12
4 1978 12.981 1.382 9,39
5 1983 11.256 1.130 9,96
6 1984 13.185 1.252 10,50
7 1985 12.300 1.113 11,05
8 1986 12.284 1.163 11,41
9 1987 14.356 1.222 11,75
10 1988 15.471 1.032 11,88
11 1989 17.117 1.407 12,17
12 1990 15.829 1.311 12,07
13 1991 15.954 1.319 12,10
Rata-Rata 13,700,92 1.186.926 10,73

Sumber :Biro Pusat Statistik

Tabel 4 : Rata-rata Pertumbuhan Ubi Kayu per Tahun

(mulai dari tahun 1994-1998)

No Proyeksi Tahun Rta-Rata Pertumbuhan
1994 1995 1996 1997 1998
1 Produksi (Juta Ton) 16.384 16.412 16.439 16.467 16.495 0,20
2 Luas Panen (Juta ha) 1.300 1.289 1.279 1.269 1.258 0,80
Produktifitas (t/ha) 12,60 12,85 12,85 12,97 13,11 0,90

Sumber : Departemen Pertanian

Dengan munculnya berbagai macam bibit unggul ubi kayu. Maka, pertumbuhan produktifitas ubi kayu juga mengalami kelonjakan yang signifikan.

Tabel 5 : Rata-Rata produksi ubi Kayu Tahun 2008-2009

No Tahun Produksi

(Juta Ton)

Luas panen

(Juta ha)

Produktifitas

(ton/ha)

1 2008 21.756.991 1.204.933 18,57
2 2009 21.990.381 1.205.440 18,24
Rata-Rata 21.873.686 1.205.186,5 18,41

Sumber : Biro statistik Pusat

Bila ubi kayu dengan Varietas Singkong gajah dibudidayakan, dengan hasil panen 150 ton/ha. Maka dengan memproduksi ubi kayu varietas Singkong Gajah. Maka, budidaya singkong gajah, bisa menaikkan laju pertumbuhan ubi kayu Nasional sampai 10,3 % . atau 11,4 kali lipat dari pertumbuhan ubi kayu.

BAB        V. BUDIDAYA SINGKONG GAJAH MENGURANGI PENGANGURAN DAN MENINGKATKAN INCAM

  1. a. Mengurangi Pengangguran Masyarakat

Lewat budidaya singkong gajah ini dapat menciptakan lapangan usaha, seperti mendirikan UKM, pabrik tapioka. Bahkan, singkong gajah bisa menjadi komoditi ekspor setelah diolah menjadi bio-etanol. Lapangan usaha yang tercipta maka akan memberikan ekses secara otomatis pada peningkatan tenaga kerja, proses rekruitmen akan berjalan linier.

  1. b. Menambah Incam Petani

Seperti hasil penelitian yang dilakukan Departemen Pertanian tahun 2000 yang menunjukkan, 88 persen rumah tanggga petani hanya menguasai lahan sawah kurang dari 0,5 hektar. Dengan luas lahan ini petani hanya mendapatkan penghasilan semusim antara Rp 325.00.00 hingga Rp543.000.00. (pendapatan ini lebih rendah dari pada tingkat upah minimum per bulan yang di terima tenaga kerja di sektor formal). Itu pun dengan catatan, bilamana panen berhasil. Lantas bagaimana jika panen gagal?. Artinya pendapatan masyarakat petani yang jauh di bawah setandar ini harus di carikan jalan keluarnya agar bisa meningkatkan incam/kapital masyarakat. Singkong gajah adalah salah satu solusi alternatif untuk bisa meningkatkan incam/kapital masyarakat. dengan hitung sederhana apabila masyarakat petani memiliki lahan 2 ha. Dengan asumsi nilai panen rata-rata 150 ton/1ha. Maka, petani bisa menghasilkan 300 ton/2ha sedangkan masa panen 8 bulan. untuk saat ini harga jual singkong di kisaran 500/kg. Selama satu panen petani bisa mendapatkan 150.000.000.00 di kurangi biaya total produksi 4.450.000/ha. Maka hasil akhir yang di dapatkan petani singkong gajah selama 1 (satu) kali panen mencapai 145.550.000.00/panen, atau petani berpenghasilan Rp. 18.193.750.00 perbulan. ( lihat tabel 6 dan 7)

Tabel 6 : Proyeksi Hasil Produksi Singkong Gajah /2ha

komoditas Luas Lahan/ha Nilai/kg Produkfitas

(Ton/ha)

Hasil (produksi/ha)
Singkong gajah 2 ha 500/kg 150.ton/ha 150.000.000

Tabel 7 ; Biaya Produksi Ubi Kayu Per Hektar

Kegiatan Produksi Biaya (Rp)
Pengolahan tanah 740.000
Biaya pemeliharaan (budidaya) 1.365.000
Biaya saprodi (pupuk dan herbisida) 970.000
Biaya Panen 375.000
Transportasi hasil Panen 1.000.000
Total Biaya 4.450.000

Tabel 8 : Perkiraan Biaya Per Liter FGE Atau Gasohol Berbasis Ubi Kayu

No Uraian Rasio/Liter FGE Harga Satuan Biaya
1 Ubi Kayu 6 500 3.000
2 Energi

% Uap Air

% Listrik (Kwh)

3,8

0,2

90*)

1.000*)

300

200

3 Bahan Kimia - - 100
Total 3.500

Dengan harga ubi kayu 500/kg maka dalam biaya produksi etanol berkadar 99,7% atau yang di sebut dengan Fuel Grade Ethanol (FGD) atau gasohol akan menghabiskan biaya total sebesar 3.500/liter. dengan nilai jual FGD tanpa cukai 5.000, dan dengan cukai 4.500 satu level dengan harga premium yang bersubsi. Namun perlu di perhatikan bahwa gasohol ini memiliki kadar Oktan lebih besar dibanding dengan pertamax. ”Perbandinganya gasohol E-10 nilai oktanya=91 sedangkan pertamax=88”, artinya kerja gasohol E-10 jauh lebih baik daripada pertamax, dan kelebihan lainya adalah mempunyai ekses yang baik terhadap lingkungan hidup, serta terbarukan.

Samapai tahun 2003 dibeberapa Negara lain telah menetapkan gasohol sebagai bahan bakar yang sah dengan jumlah produksi dan pemakaian yang mengejutkan, sngat jauh di banding dengan Indonesia, padahal secara iklim dan kesuburan tekstur tanah Indonesia lebih unggul di banding dengan negara belahan eropa dan Asia. Adapaun ketersediaan dan harga etanol di masing-masing negara (tabel:15)

Tabel 9 : Sejumlah Negara Penguna Gasohol Dengan Beragam Volume Campuran FGE

Negara Gasohol Volume L/Thn Keterangan
Berasil E-20 s/d E-30 14 Milyar Program pro-alchol sejak tahun 1975, produsen dan penguna tersebur
AS E-10 s/d E-85 6 Milyar Sejak tahun 1978
Kolombia E-10 1 Milyar Sejak 2001
Swedia E-10 s/d E-20 50 juta Sejak 1992
Australia E-5 60 Juta Sejak tahun 2000
India E-5 50 juta Wajib Sejak Tahun 2003
Thailand E-10 1,3 Milyar Th 2002 ekspor
Jepang E-5- E-10 60 Juta (Pasar Potensi)
Cina E-10 7,8  Milyar ( Pasar Potensi)

BAB   VI. SINGKONG GAJAH SEBAGAI TRIGGER GERAKAN              NASIONAL DESA MANDIRI ENERGI

  1. a. Gerakan Nasional Desa Mandiri Energi

Desa Mandiri Energi adalah desa yang dapat menyediakan energi bagi desa itu sendiri sehingga bisa membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan dan menciptakan kegiatan-kegiatan produktif. Desa Mandiri Energi terdiri dari dua jenis yaitu Desa Mandiri Energi yang dikembangkan dari non-bahan bakar nabati seperti yang menggunakan mikrohidro, tenaga surya, atau biogas serta Desa Mandiri Energi yang menggunakan bahan bakar nabati seperti biofuel.

Program Mandiri Energi adalah merupakan program binaan tujuh departemen yaitu departemen ESDM, Pertanian, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Negara Daerah Tertinggal, Kementerian BUMN, Departemen Kehutanan dan Departemen Kelautan.

“Tujuan pengembangan Desa Mandiri Energi ada beberapa yang terutama adalah pengurangan kemiskinan dan membuka lapangan kerja disamping itu juga berfungsi untuk mensubstitusi bahan bakar minyak,”

“Program pembangunan Desa Mandiri Energi (DME) di berbagai daerah sampai saat ini terus berjalan hingga tahun 2009 dengan target pencapaian 1000 DME,’ hal ini disampaikan oleh Sekjen Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Program ini selain bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil, juga bertujuan menciptakan lapangan pekerjaan serta mengurangi kemiskinan.   Desa Mandiri Energi (DME) merupakan desa yang memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri yang berasal dari sumber-sumber energi baru dan terbarukan,
‘Untuk keperluan tersebut, diperlukan paling sedikitnya 4,2 juta petani serta lahan seluas sekitar 6 juta hektar,’menurut Sekjen Departemen ESDM Waryono Karno.
Diungkapkan juga oleh Sekjen Departemen ESDM Waryono Karno pengembangan DME juga merupakan perwujudan pembangunan ekonomi pemerintah saat ini. Pembangunann ekonomi yang ber prinsip pada pro growth, pro job dan pro poor, pro planet‘.

  1. b. Singkong Gajah sebagi Komoditas sekunder

Prof Dr Ristono MS, Dan Bambang Prang Hutomo, SH. Peneliti dari Universitas Mulawarman (Unmul) menemukan tanaman ini pada 1992. menurut Prof. Dr. Ristono MS. Dan Bambang Prang Hutomo, SH. Bahwa tanaman ubi kayu varietas singkong gajah sebelumya sudah lama di temukan namun belum ada yang membudidayakan.
Cara tanam singkong ini sangat mudah, dengan sistem stek bisa tumbuh. Batang singkong dipotong lalu ditancapkan dalam tanah yang gembur. Hasilnya pun berbeda dengan singkong biasa yang ditanam menggunakan proses okulasi atau dicangkok. “Dalam jangka delapan bulan, kalau singkong biasa hasil panennya 2-3 kg dalam satu pokok, maka dengan singkong gajah bisa mencapai 10-20 kg.
Singkong gajah ini memiliki rasa yang lebih gurih, bahkan rasa singkong gajah ini hampir mirip dengan makanan yang mengandung mentega. Teksturnya juga sangat lunak tidak seperti singkong biasa yang keras. Singkong ini tak hanya bisa diolah menjadi tepung tapioka tapi juga dapat menghasilkan produk bio-etanol sebagai bahan bakar kendaraan. Untuk menghasilkan bahan bakar, singkong ini mesti diolah melalui proses distilasi (penyulingan).

Hasil panen singkong gajah bisa mencapai 150 ton/ha, sedangkan singkong biasa 30 ton/ha. Bibit yang sekarang sudah di budidayakan hampir kurang lebih 50.000 bibit singkong gajah di Kalimantan Timur tepatnya.

Seperti terlihat dalam kegiatankelompok dibawah ini :

GAMBAR.I

  1. a. Proses Pembibitan Singkong Gajah

Adapun cara untuk pembibitan singkong gajah bisa dilakukan dengan 3 (tiga) cara, yang Pertama dilakukan secara tradisional, dimana dalam pembibitan tradisional, satu batang Singkong Gajah hanya diperoleh 10-20 setek, sehingga luas areal pembibitan harus tersedia minimal 20% dari luas areal yang akan ditanami Singkong Gajah. Yang Kedua adalah dengan Rapid Multiplication mengunakan setek pendek dengan ukuran 2-3 mata tunas, sehingga dari satu batang Singkong gajah dapat dihasilkan 100-200 kali lebih banyak dibandingkan dengan pembibitan secara tradisional, langka penyelengaraan Rapid Multiplication yaitu (a) Penyemaian bibit (b) pemindahan bibit (c) pemeliharaa, (d) panen. Yang Ketiga adalah dengan mengunakan cara pembibitan melalui kultur jaringan. Kultur Jaringan (Tissue Culture) adalah teknik isolasi tanaman, seperti batang, tunas, dan daun yang yang berasal dari tanaman sehat dan unggul serta dikerjakan secara aseptik di laboratorium. Untuk menghasilkan bibit yang berkualitas, sehat, seragam, tidak membawa penyakit, dan tumbuh dengan menghasilkan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu cepat. Hal ini akan di kerjakan secara kerja sama dengan Green House yang ada di berbagai daerah. misalnya di PT. ITCI Kabupaten Penajam Pasir Utara. Dimana Kegiatan yang ada di Green House diantaranya pembibitan, perbanyakan bibit ungul dan kegiatan lain-lainnya yang mempunyai berbagai fasilitas.

  1. b. Arah Orentasi Singkong Gajah

Dalam program 100 hari pemerintahan Bapak Presiden Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Prof.Boediono meletakan dua program yang di anggap penting untuk di realisasikan yaitu Pertama Meningkatkan produksi dan ketahanan pangan dan yang Kedua Merumuskan kontribusi Indonesia dalam isu perubahan iklim dan lingkungan. Dimana program 100 hari pemerintahan tersebut mempunyai koherenitas dengan budidaya singkong gajah.

Bila Singkong gajah ini diorentasikan pada luas lahan yang selama ini sudah di manfaatkan dengan Ubi kayu biasa. Dimana luas lahan yang sudah dimanfaatkan ubi kayu biasa tersebut adalah sebesar 1.199.504. jika kebijakan pemerintahan mendukung untuk perluasan (biasfiora) tanaman ubi kayu dengan varietas singkong gajah, terhadap lahan yang sudah dimanfaatkan dengan ubi kayu biasa. Maka, produksi ubi kayu Nasional akan meningkat samapi 10,3%. Dengan hitungan 1.199.504 (ha) kali 150 ton/ha, Maka pertumbuhan produksi singkong gajah akan meningkat samapai angka 179,925,600.00 ton. bila jumlah tersebut di presentasikan produksi ubi kayu nasional bisa mencapai laju pertumbuhan sampai 10,3% dari 0,9% produksi ubi kayu biasa, atau mengalami kenaikan (11,5 kali lipat). “ jelasnya lihat tabel 6,10,11,dan 12”.

Bila Singkong gajah ini di proyeksikan sabagai Trigger Gerakan Nasional Desa Mandiri Energi dengan memanfaatkan Tenaga kerja dan Lahan yang sudah di sediakan oleh pemerintahan kepada penduduk transmigrasi. Kenaikan produksi singkong gajah akan bisa melonjak tinggi atau mengalami lompatan quantum. Dengan persedian lahan masing-masing 2ha/KK maka pendapatan pertahun/KK adalah 225juta/panen atau 28juta/bln. Lebih jelasnya lihat tabel

Tabel 10. : Luas Lahan, Produktifitas dan produksi Ubi Kayu NAsional 2009

NO PROVINSI JENIS TANAMAN TAHUN LUAS PANEN(ha) PRODUKTIFITAS

(Ku/ton)

PRODUKI

(ton)

1 Indonesia

Ubi Kayu 2009 1.199.504 184,54 22.375.949
2 NAD Ubi Kayu 2009 4 009 127,38 51 065
3 Sumatera Utara Ubi Kayu 2009 38 308 254,08 973 316
4 Sumatera barat Ubi Kayu 2009 5 246 207,44 108 824
5 Riau Ubi Kayu 2009 4 237 123,23 52 214
6 Jambi Ubi Kayu 2009 2 860 136,60 39 067
7 Sumatera Selatan Ubi Kayu 2009 11 026 154,31 170 140
8 Bengkulu Ubi Kayu 2009 3 878 116,53 45 190
9 Lampung Ubi Kayu 2009 317 216 247,00 7 835 180
10 Bangka Belitung Ubi Kayu 2009 1 507 142,79 21 519
11 Kepulauan Riau Ubi Kayu 2009 888 108,21 9 609
12 DKI Jakarta Ubi Kayu 2009 26 116,54 303
13 Jawa Barat Ubi Kayu 2009 115 284 187,89 2 166 090
14 Jawa Tengah Ubi Kayu 2009 194 483 187,27 3 642 080
15 DIY Ubi Kayu 2009 62 816 165,26 1 038 111
16 Jawa Timur Ubi Kayu 2009 208 234 154,56 3 218 433
17 Banten Ubi Kayu 2009 7 996 140,94 112 699
18 Bali Ubi Kayu 2009 11 005 154,59 170 127
19 NTB Ubi Kayu 2009 6 782 121,29 82 258
20 NTT Ubi Kayu 2009 90 481 105,68 956 195
21 KALBAR Ubi Kayu 2009 12 275 143,38 175 994
22 KALTENG Ubi Kayu 2009 6 538 117,07 76 543
23 Kalimantan Selatan Ubi Kayu 2009 8 756 148,00 129 591
24 Kalimantan Timur Ubi Kayu 2009 7 544 163,12 123 055
25 Sulawesi Utara Ubi Kayu 2009 6 196 130,69 80 977
Sulawesi Tengah Ubi Kayu 2009 5 539 178,07 98 631
27 Sulawesi Selatan Ubi Kayu 2009 25 874 170,65 441 541
28 Sulawesi Tenggara 2009 15 243 149,99 228 630
29 Gorontalo Ubi Kayu 2009 584 118,70 6 932
30 Sulawesi Barat Ubi Kayu 2009 3 411 158,07 53 917
31 Maluku Ubi Kayu 2009 8 539 135,47 115 674
32 Maluku Utara Ubi Kayu 2009 8 666 120,87 104 749
33 Papua Barat Ubi Kayu 2009 1 008 110,48 11 136
34 Papua Ubi Kayu 2009 3 049 118,59 36 159

Sumber :Badan Statistik Nasional 2009

Tabel : 11. Peningkatan produktifita

No Luas Panen (ha) Hasil produksi

(Berupa Singkong Gajah)

Harga/kg Jumlah Produksi

(Berupa Uang)

Kenaikan Produksifitas
1 1.199.504 179,925,600 ton/th 500 89.962.800.000.000 10,3%

Tabel 12. : Hasil Produksi Singkong Gajah Per KK

No Jumlah KK Luas lahan Hasil produksi

(Berupa Singkong Gajah)

Hasil Produksi

(Berupa Uang)

Hasil/Bulan
1 1 2 hektar 300 Ton/panen 150 juta/panen 18 juta/Bulan

Tabel 13. : Hasil Gasohol Per KK

No Jumlah KK Luas lahan Hasil produksi

(Berupa Singkong Gajah)

Hasil Produksi

(Berupa Gasohol)

Harga

Gasohol/l

Hasil Produksi

(Berupa Uang)

Hasil/Bulan
1 1 2 hektar 300 Ton/panen 50 Kl/panen 4.500 225juta/panen 28juta/bln

Jika kebutuhan gas masing-masing KK adalah 1 liter/hr maka kebutuhan gas masing-masing KK setiap 8 bulan adalah sebesar 240 liter. Hasil panen 50 kl/panen dikurangi kebutuhan KK selama masa panen masi tersisah 49,7 kiloleter/panen. Artinya apa yang menjadi program Fast Track Desa Mandiri Energi, , dengan disertai berbagai perspektif dukungan seperti yang terurai diatas, maka SINGKONG GAJAH juga sangat prospek untuk di jadikan ” Trigger Gerakan Nasional Desa Mandiri Energidan apabilah gagasan ini bisa terealisasikan maka indonesia tidak akan pernah mengalami kelangkaan BBM yang selama ini masi di rasakan masyarakat.

  1. c. Peran Strategis Departemen Pemerintahan

Dalam merealisasikan Gerakan Nasional Desa mandiri Energi (DME) ini, tentunya tidak di jalankan dengan cara One man Show alias individual, program ini sebagai gerakan untuk kemandirian masyarakat agar masyarakat tidak terjebak sebagai tani palma (Tani yang hasil dari panenya hanya bisa di makan sendiri), dukungan dari beberapa Departemen dan Pemerintahan Daerah sangat di butuhkan perananya, Departemen Pemerintahan yang di butuhkan untuk kerja samanya dalam merealisasikan Gerakan Nasional Desa Mandiri Energi (GN-DME) adalah mulai dari, Kementerian Negara Daerah Tertinggal, Menpora, Kementrian Tenaga kerja dan Transmigrasi, Kementerian BUMN, Departemen pertanian, Departemen ESDM dan Departemen Dalam Negeri serta Pemerintahan Daerah dll. hal ini di butuhkan untuk mensinergikan program tersebut, sehingga supotting sistem dalam proses perealisasinya bisa berjalan secara optimal dan konsisten, sampai terpenuhinya kebutuhan energi nabati bagi bangsa ini.

Demikian tulisan ini saya buat semoga bisa dijadikan referensi dalam mendukung program Desa Mandiri Energi, dan memenuhi target produksi BBN samapai 20% Per tahun 2015. amin.

Jakarta, 28 Oktober 2009

Drs. H. Yusran Aspar, M.Si.

Anggota DPR RI Komisi IV

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: